Untitled Document
   
  Kamis, 27 Jun 2019
:: home :: contact us :: about us
Untitled Document

:: home ppw
:: berita
:: Profile
:: Buku tamu

Peranan Pusat Kota sebagal Pusat Pelayanan
2006-11-15 07:42:03 - Thesis Kalla Manta
 
 
Suatu kota yang mengemban fungsi sosial-ekonomi bertindak untuk melayani daerah hinterlandnya (desa atau kota lainnya yang mempunyai pengaruh hubungan yang kuat). Kota yang mampu melayani masyarakat kota sering disebut fungsi kota, yang selalu dikaitkan dengan sosial¬ ekonomi utama suatu kota. Fungsi kota dicerminkan oleh kelengkapan dan kualitas fasilitas pelayanan perkotaan yang dimilikinya, disamping itu kota ditinjau dari segi aksesibilitasnya ke kota-kota lain atau wilayah belakangnya.

Berdasarkan fungsi tersebut, Kecamatan Masamba dikategorikan sebagai kota yang mengemban satu atau dari beberapa fungsi-fungsi kota sebagai berikut: (1) sebaga pusat pertumbuhan, (2) sebagai pusat jasa distribusi , (3) sebagai pusat pelayanan jasa lainnya (pemerintahan, pendidikan, kesehatan) bagi wilayah pengaruhnya di kabupaten Luwu Utara.

Kota sebagai pusat pelayanan, diharapkan memiliki fasilitas pelayanan seperti; (1) pusat dan pertokoan sebagai fokus point dari suatu kota, (2) sarana dan prasarana transportasi, (3) tempat rekreasi dan oleh raga, dan (4) sarana pendidikan, kesehatan dan obyek wisata. Dengan demikian kota menyediakan segala fasilitas bagi kehidupan baik sosial maupun ekonomi, sehingga baik tempat tinggal maupun bekerja dan berkreasi dapat dilakukan dalam kota (Jayadinata, 1992: 104).

Fasilitas-fasilitas tersebut merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan penduduk. Semakin lengkap penyediaan fasilitas-fasilitas di suatu tempat berarti semakin kuat daya tarik mengundang penduduk dan kegiatan-kegiatan produktif untuk datang ke tempat tersebut. Dalam meningkatkan pembangunan wilayah harus diupayakan untuk memanfaatkan peran kota-kota sebagai pusat pertumbuhan dan pusat pelayanan. Ada dua faktor panting perlu diperhatikan sehubungan dengan peran pusat-pusat dan hirarki dari masing-masing pusat (Soegijoko, 1995:78).

Pusat-pusat pelayanan tercipta dalam jumlah tertentu dan berada dalam skala lebih kecil dari pusat petumbuhan wilayah serta tersebar di berbagai penjuru wilayah, berfungsi sebagai titik orientasi pelayan sosial ekonomi penduduknya antara pusat pertumbuhan dan pusat-pusat pelayanan sosial-ekonomi membentuk suatu tats jaringan fungsional yang secara hirarki terstruktur sebagai komplek tata ruang wilayah.

Daerah perkotaan sebagai pusat pertumbuhan wilayah akan berfungsi sebagai pusat getaran aglomerasi ekonomi yang mendorong timbulnya kekuatan ke depan dan ke belakang antara titik pusat dan daerah belakangnya dalam menjaga kelangsungan hidup penduduk dan kegiatan fungsional wilayah atau daerah. Gilbert (1975) dalam Adisasmita (1994:99-101) pusat-pusat pelayanan yang lebih kecil adalah penghubung antara pusat-pusat pelayanan yang lebih besar dengan daerah pedesaan. Hubungan. pengembangan pusat-pusat pelayanan dalam strategi perencanaan pembangunan regional bukan hanya diarahkan untuk meningkatkan pendapatan riil penduduk, akan tetapi juga untuk menghilangkan atau mengurangi ketimpangan antara daerah perkotaan dan daerah pedesaan.

Sejalan dengan tujuan pembangunan wilayah, maka penyediaan fasilitas pelayanan dasar perkotaan sebagai salah satu bentuk pelayanan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat kola, seharusnya adalah diusahakan untuk memenuhi tiga buah prinsip yaitu affordability,recoverability dan replicability (Prakash, 1985).

Uraian prinsip-prinsip tersebut sebagai berikut: pertama dan paling utama yaitu keterjangkauan (affordability) biaya untuk memanfaatkan fasilitas pelayanan haruslah relatif murah sehingga masyarakat mampu untuk membayarl menjangkaunya (affordable) dan akibatnya dapat memanfaatkan pelayanan yang disediakan. Kedua adalah recover ability, suatu proyek penyediaan fasilitas pelayanan bagi masyarakat pada dasarnya harus dapat membiayai dirinya sendiri (recoverable).

Apabila tidak, maka dikuatirkan bahwa pelayanan tersebut tidak akan berkelanjutan karena. tidak dapat bertahan menghidupi dirinya sendiri. Ketiga adalah replicability adalah rencana penyediaan fasilitas pelayanan perkotaan bagi masyarakat bukanlah suatu kegiatan yang sifatnya hanya berlaku di suatu lokasi tertentu, sehingga belum tentu dapat diimplementasikan di tempat lain pads waktu yang berbeda. Berarti bahwa kegiatan penyediaan fasilitas pelayanan perkotaan bagi masyarakat bukanlah suatu kegiatan yang sifatnya proyek, tetapi lebih kepada program, artinya direncanakan untuk dapat dilaksanakan di tempat lain yang membutuhkan (replicable). Penyediaan fasilitas pelayanan perkotaan haruslah memenuhi ketiga prinsip ini agar pelayanan tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat banyak, dan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Prakash, 1985; Hassan, 1985; Prodipto, 1985).
 
 
 
 
Untitled Document
 
 
Copyright © 2006. Rev 2010. Created by Irsyadi S. All Right Reserved.